Iklan Belum Mati, Ia Hanya Sedang Berganti Wajah

IMG
Kompas ID (archive.citrapariwara.org)

Pernahkah kalian merasa sangat terganggu saat sebuah iklan tiba-tiba muncul dan menutupi layar smartphone di tengah keasyikan membaca berita? Atau mungkin kalian termasuk orang yang langsung menekan tombol skip di detik kelima saat menonton YouTube? Jujur saja, fenomena ini melahirkan sebuah kebenaran pahit yang harus kita telan sebagai insan kreatif: penonton sebenarnya membenci iklan. Orang tidak menonton tv atau membuka internet untuk mencari iklan; mereka mencari informasi dan hiburan. Iklan sering kali dianggap sebagai “pengganggu” yang tidak diundang.

Kondisi inilah yang memicu perdebatan panas tentang apakah iklan sudah mati di era digital ini. Namun, jika kita melihat lebih dalam, yang sebenarnya sedang sekarat bukanlah iklannya, melainkan cara-cara lama kita dalam menyampaikannya. Kita sedang menyaksikan pergeseran besar, di mana iklan tidak lagi bisa berdiri tegak secara fisik sebagai billboard kaku atau video 30 detik yang memaksa. Iklan telah berevolusi menjadi sebuah konsep komunikasi persuasif yang jauh lebih cair.

Jika kita menengok ke belakang, iklan sebenarnya sudah melewati perjalanan yang sangat panjang. Bayangkan di zaman Pompeii, iklan hanya berupa simbol sederhana sebagai penanda identitas sebuah kedai. Lalu, mesin cetak Gutenberg membawa kita ke Era Informasi, di mana kata advertisement mulai dikenal luas. Masuk ke era revolusi industri, iklan menjadi sangat persuasif, terkadang hingga taraf hiperbolis, demi memenangkan persaingan pasar. Kini, di era internet, fungsi pemberian informasi mentah sudah diambil alih oleh mesin pencari. Kita tidak lagi butuh iklan hanya untuk tahu “siapa menjual apa”, karena semua itu ada di ujung jari kita.

Di sinilah tantangan kreatif yang sebenarnya muncul. Isu terbaru yang kita hadapi bukan lagi soal bagaimana membuat desain yang cantik, tapi bagaimana kita menghadapi personalisasi yang super agresif melalui bantuan Artificial Intelligence (AI). Saat ini, algoritma seolah menjadi “Agensi Iklan” baru yang mampu menebak keinginan kita bahkan sebelum kita sempat memikirkannya. Kamu mencari sepatu lari di Google, dan seketika seluruh linimasa media sosialmu berubah menjadi toko sepatu. Ini adalah bentuk penempatan digital yang sangat efektif namun sekaligus menakutkan jika tidak dikelola dengan sentuhan manusiawi.

Oleh karena itu, strategi paling relevan saat ini adalah merancang “iklan tidak seperti iklan” seperti di mention Budiman Hakim jauh sebelum era digital booming. Kita harus mampu membungkus pesan komersial menjadi sebuah pengalaman atau konten yang bernilai bagi audiens. Seperti yang sering kita diskusikan dalam konsep Marketing 4.0, selaras dengan konsep Society 5.0, secanggih apa pun teknologi yang kita gunakan—mulai dari machine learning hingga analisis big data—tujuan akhirnya harus tetap sama: membangun koneksi yang lebih manusiawi. Iklan akan tetap ada selama masih ada persaingan merebut pasar dan menarik perhatian calon konsumen. Namun Iklan saat ini harus beradaptasi untuk mengekspresikan dirinya dalam wahana baru (digital), dengan cara lebih sopan serta tidak mengganggu dalam keseharian kita.