Marketing berdasarkan berbagai penjelasan dapat disimpulkan sebagai bentuk upaya perusahaan dalam penciptaan nilai-nilai sehingga dapat dipertukarkan dengan nilai-nilai konsumen. Penciptaan nilai-nilai yang dimaksud dapat berupa nilai yang bersifat rasional maupun emosional. Nilai rasional adalah keuntungan fisikal yang terukur terasa secara langsung, seperti membersihkan noda dengan cepat, busa lebih banyak, alas yang empuk di kelasnya, dll. Sedangakan nilai yang bersifat emosional adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan rasa, keyakinan, ideologikal, dan lain-lain. Seperti tampil keren, untuk ibu yang bertanggungjawab, masa depan yang lebih cerah, dan lain-lain. Keberadaan nilai-nilai ini menjadi penting karena pada prosesnya akan dipertukarkan, atau bahasa sederhananya ditransaksikan, dengan nilai yang dimiliki konsumen.
Era digital saat ini nilai-nilai yang dimiliki konsumen sudah berkembang, tidak lagi sekedar nilai uang yang bersifat fisikal, namun bisa berupa kayakinan maupun kepuasan yang menciptakan tindakan rekomendasi. Atau oleh para ahli marketing kontemporer diistilahkan sebagai evangelist atau pembela merek. Berkaitan dengan hal tersebut istilah merek atau brand menjadi bagian penting dalam mazhab marketing atau bisnis kontemporer. Jika dulu merek diposisikan sebagai identitas yang membedakan satu produk dengan produk pesaing yang sejenis, saat ini konsep brand sudah bergeser menjadi bagian dari perencanaan bisnis dari awal pembuatannya. Brand dapat dikatakan sebagai proyeksi nilai-nilai dari suatu produk atau layanan yang diwujudkan ke dalam bentuk yang dapat diidentifikasikan secara jelas oleh calon konsumennya. Sehingga pada konsep marketing atau bisnis kontemporer kesadaran penciptaan brand sudah disadari sejak awal perencanaan oleh para kreatornya.
Karena nilai-nilai tidak cukup hanya diciptakan namun harus mampu dikomunikasikan secara jelas dan unik, sehingga menarik perhatian calon konsumennya. Bentuk komunikasi dari brand yang dimaksud dapat bersifat pasif dan aktif. Pasif biasanya berupa identitas visual dalam bentuk logo, kemasan, grafis, penempatan lokasi, ekspresi, dan lain-lain. Sehingga calon konsumen atau pemirsa hanya dapat mengakses atau komunikasi terjalis saat ada interaksi langsung antara brand/produk dengan calon konsumennya. Sedangkan bersifat aktif yaitu saat komunikasi brand memanfaatkan media atau pihak ketiga dalam mengomunikasikan nilai-nilainya. Biasanya kamunikasi brand yang bersifat aktif akan menggunakan bahasa-bahasa persuasif dalam tindakan komunikasinya, memnafaatkan saluran komunikasi brand yang tersedia. Penjelasan ini akan terlihat serupa dengan marketing communication secara operasionalnya. Untuk dapat dibedakan berdasarkan pengertian marketing dan branding secara umum, jika komunikasi brand merupakan penciptaan citra produk sedangkan marketing lebih fokus pada penciptaan tindakan, baik percobaan maupun pembelian. Sehingga secara sederhana membedakannya adalah branding adalah citra sedangkan marketing adalah selling.
TA menganut nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan mereka
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya jika pengertian marketing adalah penciptaan nilai-nilai (rasional dan emosional) pada produk sehingga dapat dipertukarkan dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh calon konsumennya. Poin penting dari penjelasan ini adalah keberadaan konsumen sebagai objek marketing. Di era keterbukaan informasi saat ini konsumen tidak lagi dipandang sebagai objek jualan, namun brand harus memosisikan sejajar dengan calon konsumennya. Dengan makna brand harus tampil secara jujur, bijak, mengerti karakteristik konsumen, dan natural. Namun di sisi lain agar komunikasi tidak berjalan satu arah maka proses komunikasi brand maupun marketing harus dimulai dari memahami secara mendalam sisi psikografis target yang di sasar. Pada dasarnya manusia menganut nilai-nilai tertentu dalam kehidupannya. Namun nilai tersebut tidak hadir begitu saja, ia tumbuh seiring berkembangnya pengetahuan, pendidikan, aktifitas sosial, kayakinan, agama, lingkungan dimana ia hidup, dan lain-lain.
Model-model analisis perilaku konsumen umumnya berangkat dari kebutuhan dasar maupun keinginan emosionalnya, dari titik tersebut maka mucul berbagai permasalahan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Dari sisi sebaliknya dari permasalahan-permasalahan tersebut dapat memunculkan kebutuhan dan keinginan-keinginan baru. Dari dua poin tersebut maka akan mendorong manusia untuk melakukan tindakan-tindakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan maupun menanggulangi masalah yang dihadapinya. Tindakan inilah yang biasanya paling mudah diidentifikasi, karena hadir secara nyata (fisikal). Namun jika bergerak lebih dalam segala tindakan manusia ternyata didasari oleh keyakinan atau motivasi tertentu, dan di dalamnya mengandung nilai-nilai tertentu yang pada setiap orang akan berbeda ekspresinya.
Seperti contoh seorang ibu rumah tangga aktifitas pagi harinya sangat sibuk dan cukup berat, selain harus bangun lebih awal dari anggota keluarga lainnya, ia harus mempersiapkan segala kebutuhan anak maupun suami beraktifitas dari pagi hingga petang hari. Termasuk menyiapkan sarapan pagi, selain masakan tersebut harus enak namun juga bergizi. Rasa yang enak agar anak-anak tidak rewel dan mau sarapan pagi, sedangkan kandungan gizi dikarenakan mereka harus beraktifitas dari pagi hingga siang hari. Keberadaan kandungan gizi yang baik memastikan anak-anak dapat beraktivitas belajar secara maksimal, tidak lemas atau sakit. Yang perlu dipahami adalah terdapat motivasi atau nilai-nilai tertentu yang diyakini oleh Sang Ibu sehingga mau bersusahpayah melakukan aktivitas padat di pagi hari tersebut. Motivasi atau nilai-nilai tersebut biasany abersifat emosional, seperti ibu yang bertanggungjawab bagi kesehatan keluarga, ketenangan jika anggota keluarga lahap memakan sarapan pagi, dan lain-lain.
Mengapa penjelasan ini perlu disampaikan, karena sebuah bisnis akan berjalan ketika nilai-nilai dari brand dapat selaras dengan nilai-nilai yang dianut calon konsumennya. Sebuah bisnis dapat dikatakan berjalan ke arah yang benar saat dapat dianggap sebagai produk atau brand yang bernilai bagi konsumen, baik secara fisikal maupun emosional. Sehingga komunikasi merek maupun pemasaran harus mengandung dua hal tersebut, yaitu nilai-nilai kegunaan produk dan nilai atau motivasi konsumennya. Nilai brand (rasional maupun emosional) merupakan reason why to believe bagi konsumen sedangkan nilai yang digali dari konsumen adalah reason why to buy terhadap brand atau produk. Integrasi dari dua nilai tersebut biasanya diolah menjadi pesan brand yang nantinya diterjemahkan ke dalam komunikasi visual maupun verbal, memanfaatkan saluran-saluran komunikasi brand yang tersedia.